| Remaja & Budaya Pop |
|
|
|
| Monday, 16 June 2008 | ||||||
|
Televisi merupakan suatu media hiburan yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia sekarang ini. Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang membela-bela waktunya untuk menonton acara-acara, seperti sinetron, infoteiment, kuis atau reality show. Mereka rela duduk di kursi berjam-jam untuk menyaksikan acara-acara yang ada di TV. Dan tanpa disadari, lama-kelamaan mereka menjadi pasif dan malas-malasan, sehingga banyak pekerjaan yang tertunda, hanya demi TV.
Hal ini pun juga dialami oleh para remaja Indonesia sekarang ini. Selain stasiun-stasiun dalam negeri, adapula tv kabel, yang dapat mengakses stasiun-stasiun luar negeri, seperti HBO, MTV ASIA atau CHANNEL [V]. Banyak remaja-remaja yang sengaja mengulur-ulur waktu belajarnya hanya karena ada acara menarik di TV. Dan yang paling mungkin terjadi adalah perseteruan antara sang remaja dan orangtuanya, kemudian sang remaja berakhir dengan menyalahkan orangtuanya yang dianggap terlalu ketat dan memaksa.
Acara-acara yang ada dalam stasiun-stasiun TV (khususnya stasiun TV Indonesia) sekarang, juga banyak yang tidak bagus. Seperti sinetron-sinetron yang hanya memakai aktris atau aktor terkenal, namun tidak memiliki alur cerita yang jelas dan pesan moral yang ingin disampaikan. Lebih-lebih lagi, saat ini sedang bertebaran sinetron-sinetron yang bertema remaja dan memang bermaksud untuk menangkap pemirsa remaja. Biasanya sinetron-sinetron ini hanya berkisah seputar masa-masa sekolah, pertemanan, percintaan ataupun permusuhan. Aktris dan aktor yang dipakai pun juga muda-mudi yang memiliki ‘kelebihan’. Maksud dari ‘kelebihan’ ini, adalah kelebihan dalam hal paras. Sang aktris harus cantik, putih, berambut panjang, langisng dan berkulit putih. Sedangkan sang aktor haruslah yang ganteng, tinggi dan memiliki badan yang proporsional. Bila diperhatikan, sebenarnya para aktris dan aktor muda ini, tidak memiliki kualitas dalam berakting. Selama mereka bisa berakting marah dan judes, maka mereka dianggap telah dapat berakting.
Hal-hal di atas merupakan suatu realita yang harus dihadapi oleh remaja Indonesia sekarang. Entah mereka sadar atau tidak, sebenarnya sinetron-sinetron atau beberapa acara di TV, sebenarnya tidak layak untuk dikonsumsi. Apalagi oleh kaum remaja, yang terkadang masih bersikap naif dan polos dalam menyerap sesuatu yang baik dan buruk, atau yang penting dan yang tidak penting. Dan pengawasan dari orangtua pun terkadang sudah semakin melonggar, mengingat mereka telah ‘remaja’, bukan ‘anak kecil’ lagi. Padahal dalam masa-masa inilah, mereka paling membutuhkan pengawasan dan perhatian penuh dari orangtuanya. Namun selain itu, alasan menonton TV yang paling mungkin dilontarkan oleh para remaja adalah, “apa boleh buat? Habis tidak ada hiburan lain.”
Sebuah realita lain lagi yang harus dihadapi. Televisi sekarang merupakan sebuah alternatif hiburan yang paling memungkinkan ataupun hanya sekedar pengisi waktu luang, khususnya bagi para remaja di kota-kota besar seperti Jakarta. Bila mereka tidak menonton TV, hal yang lain mungkin dilakukan oleh para remaja biasanya nongkrong di mall, membuka internet lewat komputer atau bermain playstation. Namun bila mereka sudah bosan melakukan itu semua, mereka akan kembali lagi berkutat dengan televisinya masing-masing.
Televisi merupakan suatu alternatif hiburan yang paling layak dan yang paling mudah untuk didaptkan saat ini, oleh para remaja. Kreativitas mereka telah dibatasi dan dibunuh, dengan adanya kehadiran televisi. Padahal sebenarnya mereka dapat melakukan hal-hal yang lebih berguna dan bahkan lebih menarik dan menghibur, daripada sekedar menonton televisi. Seperti membaca buku, berkreasi menggunakan hal-hal baru, mengisi waktu dengan mengembangkan dan menyalurkan bakat (les nyanyi, les bahasa asing, dll), berolahraga, dsb. Untuk itu, kondisi remaja Indonesia sekarang ini sebenarnya sudah cukup memperihatinkan. Mereka bergantung terhadap televisi dan barang-barang elektronik (handphone, komputer, playstation, dll), yang dianggap mudah dan cepat, untuk memuaskan kebutuhan mereka terhadap hiburan.
Lambat-laun, kebiasaan untuk mendapatkan sesuatu secara mudah dan cepat, dapat menumbuhkan masyarakat yang serba instant. Menciptakan suatu generasi yang malas dan tidak mau berusaha, karena ingin semuanya serba instant dan mudah. Hal seperti ini dapat mempengaruhi mentalitas dan perilaku sosial para remaja. Seperti contohnya adegan kekerasan dalam suatu film, dapat secara tidak sadar mempengaruhi perilaku seorang remaja yang menyaksikannya. Adegan itu terekam dalam otaknya, dan ketika ia berada di suatu situasi yang membuatnya terancam, ia akan melakukan tindak kekerasan, secara tidak sadar.
(Deisha/2005-2008) Sumber : Koran Kompas Add as favourites (25) | Quote this article on your site | Views: 282
Write Comment
|
||||||
| < Prev | Next > |
|---|






